Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ima Mahdiah, mengimbau Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan kegiatan penanggulangan stunting melalui sosialisasi yang terus dilakukan kepada masyarakat di setiap wilayah. Menurutnya, penting bagi Posyandu, Posbindu, serta RT-RW untuk lebih peka terhadap masyarakat yang terkena stunting. Ima menekankan bahwa stunting pada anak dapat disebabkan bukan hanya sejak kelahiran, tetapi juga oleh kurangnya pengecekan yang dilakukan orang tua sejak masa kehamilan. Selain itu, kondisi lingkungan yang kurang bersih dan tidak memenuhi kebutuhan air bersih juga dapat menjadi pemicu stunting pada anak.
Ima juga meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk lebih intensif dalam menyosialisasikan penanganan stunting di berbagai wilayah DKI Jakarta. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang enggan melaporkan anak-anak mereka yang mengalami gejala stunting ke Posyandu, RT-RW, serta Puskesmas. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, juga menggarisbawahi pentingnya memulai pengentasan stunting sejak perencanaan kehamilan dan perlunya pendekatan khusus untuk hal ini.
Rano menyatakan bahwa percepatan program pengentasan stunting membutuhkan pendekatan spesifik di berbagai wilayah. Dia menekankan pentingnya kerjasama dengan pusat-pusat kesehatan yang dekat dengan masyarakat untuk menangani stunting secara efektif. Data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di DKI Jakarta mencapai 17,6 persen, dengan persentase tertinggi terdapat di Kota Jakarta Utara sebesar 19,7 persen. Jakarta Pusat, Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan juga memiliki prevalensi stunting yang signifikan. Upaya penanganan stunting harus terus ditingkatkan untuk mencapai hasil yang optimal dan mendukung kesehatan anak-anak di DKI Jakarta.


