Dalam acara halalbihalal Institute for Humanitarian Islam di Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjadikan Islam sebagai agama yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal. Beliau mengungkapkan bahwa semua individu, tanpa memandang agama, etnis, atau kewarganegaraan, harus dihargai. Menurut Menag, dalam Islam, hak asasi manusia berlaku tidak hanya untuk yang hidup, tetapi juga untuk yang sudah meninggal dunia.
Contohnya, mematahkan tulang rusuk mayat dianggap sama dosanya dengan mematahkan tulang rusuk orang hidup. Nasaruddin Umar menekankan bahwa keadilan manusiawi dalam Islam juga termasuk menghormati hak asasi manusia yang sudah meninggal dunia. Menurutnya, penting untuk tidak menghakimi isi hati seseorang, karena hanya Allah lah yang tahu kebenaran iman seseorang.
Selain itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf juga menekankan pentingnya solidaritas internasional dalam mengatasi konflik global, termasuk krisis di Palestina. Beliau menyatakan bahwa kolaborasi antar berbagai pihak dengan visi yang sama dapat membawa perdamaian dunia lebih dekat. Gus Yahya juga mengingat pesan dari almarhum Gus Dur, bahwa memperjuangkan kemanusiaan berarti memenangkan semua pihak, tak peduli agama atau keyakinan mereka.
Dengan demikian, upaya untuk menjadikan Islam sebagai agama yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal dan memperjuangkan perdamaian dunia melalui solidaritas internasional merupakan langkah yang penting bagi masyarakat global. Kabar ini disampaikan oleh ANTARA pada tahun 2025.








