Tuesday, January 13, 2026
HomeFinansialRencana Penerapan Tarif Resiprokal AS Picu Pelemahan Rupiah

Rencana Penerapan Tarif Resiprokal AS Picu Pelemahan Rupiah

Rupiah mengalami tekanan akibat sentimen risk off yang terus kuat di pasar ekuitas dan mata uang emerging yang masih melemah. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan pernyataan Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Howard Lutnick, yang menegaskan bahwa penerapan tarif resiprokal AS tidak akan ditunda. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini di Jakarta melemah sebesar 169 poin atau 1,01 persen menjadi Rp16.822 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.653 per dolar AS.

Pernyataan Mendag AS yang menegaskan tidak ada penundaan dalam penerapan tarif resiprokal telah memicu sentimen risk off yang kuat di pasar pagi ini. Presiden AS, Donald Trump, telah mengumumkan kenaikan tarif minimal 10 persen ke banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Indonesia menduduki peringkat delapan dalam daftar negara yang terkena kenaikan tarif AS sebesar 32 persen, diikuti oleh Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand dengan kenaikan tarif masing-masing.

Pemerintah AS menerapkan tarif impor baru dengan tujuan menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri. China merupakan salah satu negara yang menjadi fokus, dengan tarif pemerintah AS terhadap barang impor dari China mencapai 54 persen. Respons dari China terhadap kebijakan tarif AS juga tidak tanggung-tanggung, dengan pemberlakuan tarif tambahan sebesar 34 persen untuk semua barang dari AS. Situasi ini berdampak pada pelemahan rupiah dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukar rupiah di bawah atau tidak jauh dari Rp17 ribu. Perang dagang yang masih mengancam menjadi faktor tekanan yang berkelanjutan terhadap nilai tukar rupiah.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer