Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengembangkan konsep blue food atau pangan berbasis sumber daya perairan untuk meningkatkan konsumsi protein masyarakat. Konsep ini mencakup pemanfaatan ikan, udang, kerang, rumput laut, serta biota perairan lain dari ekosistem laut dan air tawar.
Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda mengatakan peningkatan konsumsi ikan harus berjalan bersama dengan produksi yang ramah lingkungan. Ia menyampaikan hal itu saat meninjau keramba jaring apung (KJA) milik PT Suri Tani Pemuka (Japfa) di Danau Toba, Sumatera Utara, Jumat.
“Bagaimana supaya di negara kepulauan ini kita konsumsi ikannya, kita tingkatkan dengan produksi yang sebetulnya harus produksi yang ramah lingkungan,” kata Rahmat.
Produksi harus terukur dan menjaga kualitas air
Menurut Rahmat, penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengembangan blue food tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran juga harus menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
“Dan, juga kegiatannya harus menjamin keberlanjutan secara tepat, artinya ada di ukurannya. Masalah kualitas air, masalah nanti pencemarannya seperti apa itu supaya bisa terkontrol,” ujarnya.
Untuk Danau Toba, ia menilai keberlanjutan harus dibangun dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, ekologi, dan sosial. Danau tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk perikanan, tetapi juga mendukung pariwisata, peternakan, transportasi, sumber air, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
“Ini tentunya sustainability itu harus saling seimbang satu sama lain. Dan kami selalu menekankan kepada semua pihak bahwa prinsip itu harus diterapkan di pengolahan Danau Toba ini karena ini merupakan kondisi yang sangat lengkap dan banyak sektor terkait di sini tidak hanya perikanan ya, ada pariwisata, ada juga peternakan, ada juga hutannya di daratan,” kata Rahmat.
Bagian dari transformasi sistem pangan
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo Adypurnama mengatakan pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi sistem pangan yang tengah dilakukan pemerintah. Menurut dia, upaya mencapai swasembada pangan perlu disertai strategi produksi yang rendah emisi, hemat penggunaan air, dan tetap menjaga keberlanjutan sumber daya alam serta daya dukung lingkungan.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber protein yang besar dari sektor perairan. Berdasarkan statistik Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sekitar 55 persen sumber protein masyarakat Indonesia berasal dari ikan.
Leonardo mengatakan kebutuhan untuk meningkatkan konsumsi protein semakin relevan seiring dengan program-program besar pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut blue food sebagai salah satu sumber yang dapat didorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mengingat konsumsi protein masyarakat Indonesia masih rendah.
Untuk mendukung pengembangan konsep itu, Bappenas bersama mitra pembangunan internasional, termasuk Stanford University, Uni Eropa, dan sejumlah mitra dari kawasan Asia Pasifik, tengah mengembangkan Blue Food Assessment. Inisiatif riset tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan blue food di Indonesia.
Leonardo menyebut kunjungan ke fasilitas KJA Japfa di Danau Toba sebagai kesempatan untuk melihat contoh produksi ikan yang dinilai telah didukung pola-pola yang baik. Menurut dia, praktik tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mentransformasikan sistem pangan Indonesia secara berkelanjutan.


