Tuesday, October 13, 2026
HomeLintas KotaPakai Masker! Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia

Pakai Masker! Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia

Jakarta menempati posisi kedua dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Senin pagi. Data IQAir pukul 08.00 WIB mencatat indeks kualitas udara atau AQI ibu kota berada di angka 170, hanya di bawah Baghdad, Irak, yang mencapai 178.

Dengan angka tersebut, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat. Polutan utama yang terpantau ialah PM2.5 dengan konsentrasi 82 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini dinilai dapat merugikan manusia maupun kelompok hewan yang sensitif, serta berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan dan mengganggu nilai estetika.

IQAir merekomendasikan masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar disarankan menggunakan masker. Jendela juga sebaiknya ditutup untuk mencegah udara luar yang tercemar masuk ke dalam ruangan.

Jakarta di antara lima kota dengan udara terburuk

Dalam pemeringkatan pada waktu yang sama, Baghdad berada di urutan pertama dengan AQI 178. Setelah Jakarta, Dhaka di Bangladesh menempati posisi ketiga dengan angka 166, disusul Kuala Lumpur, Malaysia, dengan AQI 163. Ho Chi Minh City, Vietnam, berada di peringkat kelima pada angka 157.

Skala kualitas udara membagi tingkat pencemaran ke dalam beberapa kategori. Rentang 0–50 dikategorikan baik, yakni kondisi yang tidak memberikan dampak terhadap kesehatan manusia maupun hewan serta tidak memengaruhi tumbuhan, bangunan, ataupun nilai estetika.

Kualitas udara pada rentang 51–100 termasuk kategori sedang. Pada tingkat ini, udara disebut tidak memengaruhi kesehatan manusia atau hewan, tetapi dapat berdampak terhadap tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Sementara itu, rentang 200–299 diklasifikasikan sangat tidak sehat karena dapat merugikan kesehatan sejumlah kelompok populasi yang terpapar. Tingkat tertinggi adalah kategori berbahaya pada rentang 300–500, ketika kualitas udara secara umum dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi populasi.

Sistem peringatan dini tengah disiapkan

Untuk memperkuat penanganan pencemaran udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tengah mempersiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS). Sistem itu ditujukan untuk menghasilkan prediksi polusi udara yang lebih akurat.

Pengembangan EWS menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI dalam mengurangi dampak pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Informasi prakiraan yang lebih akurat dan mudah diakses diharapkan membantu warga menentukan langkah perlindungan sebelum kondisi udara memburuk.

Manfaat sistem tersebut terutama diarahkan kepada kelompok yang lebih rentan terhadap pencemaran, meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru lainnya.

Melalui peringatan lebih awal, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan sesuai perkiraan kualitas udara. Tindakan itu antara lain memakai masker ketika berada di luar ruangan, membatasi aktivitas fisik di area terbuka, dan mengurangi paparan terhadap polusi udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer