Gubernur DKI Jakarta Akui Tantangan Besar dalam Relokasi PKL di Kramat Jati
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan bahwa relokasi pedagang kaki lima (PKL) di Kramat Jati tidaklah mudah, namun hal ini merupakan komitmen kuat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka menata kawasan dan mengembalikan fungsi jalan. Pramono menegaskan bahwa proses pembenahan ini merupakan langkah penting karena sudah berlangsung selama lebih dari 50 tahun.
Pendekatan Humanis dalam Proses Relokasi
Dalam upaya menata ulang kawasan ini, Pramono mendorong agar proses relokasi dilakukan dengan pendekatan yang lebih humanis. Hal ini tercermin dari keinginannya untuk menyediakan tempat yang layak bagi para pedagang sebelum dipindahkan ke lokasi baru. Pramono menekankan bahwa pendekatan yang humanis akan menjadi prinsip utama selama proses relokasi ini berlangsung.
Sebanyak 614 pedagang PKL yang semula berjualan di sekitar Jalan Pasar Kramat Jati akan direlokasi ke berbagai lokasi. Dari jumlah tersebut, 331 pedagang akan berjualan di Pasar Kramat Jati Sektor 7, 193 pedagang ikan akan dipindahkan ke Lokasi Binaan Kramat Jati, 45 pedagang kue akan ditempatkan di Lokbin Cililitan, dan 45 pedagang lainnya akan berjualan di pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya.
Tantangan dalam Proses Relokasi
Meskipun telah ada rencana relokasi yang jelas, Pramono juga mengakui bahwa tidak semua pedagang dapat langsung dipindahkan ke lokasi baru karena adanya keterbatasan tempat. Saat ini, lokasi binaan hanya mampu menampung sekitar 120 pedagang. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan lokasi tambahan yang tidak jauh dari Kramat Jati untuk menampung pedagang yang belum terakomodasi.
Targetnya, seluruh proses relokasi ini dapat selesai dalam waktu tiga minggu ke depan. Pramono telah meminta kepada jajaran Pemerintah Kota Jakarta Timur untuk segera menindaklanjuti rencana tersebut guna memastikan kelancaran proses relokasi pedagang PKL di Kramat Jati.


