Jakarta – Seorang pedagang cermin di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, yakni Bambang Setiyawan (59 tahun), meninggal dunia setelah terlibat dalam situasi kericuhan pada Kamis malam. Saat itu, istrinya, Sudarsi (56 tahun), menceritakan bahwa mereka berdua sedang berjualan cermin sebelum kejadian tragis itu terjadi.
Berpamitan Sebelum Tragedi
Pada Kamis sore sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsi meminta Bambang untuk menutup tempat usahanya lebih awal karena melihat massa mulai berdatangan. Biasanya, mereka baru menutup usaha sekitar pukul 18.00 WIB, namun situasi tidak memungkinkan.
Saat tempat usaha sudah ditutup, mereka kembali pulang bersamaan dengan kedatangan seorang warga bernama Tagor yang sedang sakit. Anak Bambang kemudian mengantarkan Tagor ke RS Pelni menggunakan sepeda motor, sementara Sudarsi dan Bambang tetap di rumah.
Masa-masa Genting
Situasi di sekitar rumah mereka masih ramai oleh massa hingga larut malam. Meski Bambang kerap keluar untuk melihat situasi, malam itu ia tidak kembali ke rumah. Sudarsi mulai khawatir dan mencari suaminya di sekitar lokasi, namun tidak berhasil menemukannya.
Di tengah kekhawatiran, mereka menerima pesan dari Tagor yang salah mengira bahwa pesan balasan yang ia terima berasal dari Bambang. Anak mereka kemudian kembali ke rumah setelah menyadari kesalahpahaman itu, namun Bambang masih belum pulang.
Terungkapnya Tragedi
Sekitar pukul 02.30 WIB, keluarga menerima video yang memperlihatkan Bambang dalam kondisi mengenaskan. Mereka memastikan identitas Bambang dalam video tersebut sebelum akhirnya mendapat informasi bahwa Bambang telah dibawa ke RS Polri dan diduga telah meninggal dunia di lokasi kejadian.
Keluarga akhirnya menerima kabar bahwa Bambang telah dimakamkan di Kemanggisan Pulo, Jakarta Barat setelah shalat Jumat. Pemerintah setempat juga turut memberikan dukungan dan mengunjungi keluarga untuk memastikan kondisi mereka pasca-tragedi ini.


