Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memfasilitasi distribusi pangan melalui peran perusahaan umum daerah (perumda) untuk menekan risiko inflasi akibat dampak El Nino. Dengan ketidakpastian cuaca dan potensi El Nino kuat yang dapat mempengaruhi produksi pertanian, langkah ini dianggap sebagai bentuk antisipasi yang tepat.
Peran Perumda dalam Distribusi Pangan
Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa perumda pangan turut berperan dalam kerja sama antardaerah untuk mendistribusikan komoditas pangan dari daerah surplus ke daerah yang kekurangan pangan. Misalnya, di Bali, kerja sama antara Perumda Mangu Giri Sedana Kabupaten Badung dengan Perumda Swatantra Kabupaten Buleleng telah terjalin dengan baik.
Selain itu, ada juga kerja sama antara Rumah Tani Nusantara dengan Perumda Mangu Giri Sedana Kabupaten Badung dalam penyediaan pangan strategis. Semua langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan penyerapan, penyediaan, dan pemasokan pangan di berbagai daerah di Bali.
Sinergi Bank Indonesia dengan Pemerintah Daerah
Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dalam upaya pengendalian inflasi. Fokus utamanya adalah pada keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Bali mengalami deflasi sebesar minus 0,51 persen pada Juli 2026, berbeda dengan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi. Hal ini dipengaruhi oleh periode panen beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan aneka cabai di Bali.
Inflasi tahunan Bali juga mengalami penurunan dari 3,27 persen menjadi 2,42 persen, seiring dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai El Nino 2026 yang telah mencapai kategori kuat. BMKG menyatakan bahwa El Nino masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, berisiko memicu musim kemarau yang lebih kering dan panjang di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Bali.


