Permintaan Gadai Barang Mewah Meningkat pada Kuartal Kedua 2026
Jakarta (ANTARA) – Perusahaan gadai PT Lesca Gadai Premier melaporkan adanya peningkatan permintaan layanan gadai barang mewah pada kuartal kedua 2026. Hal ini terjadi di tengah volatilitas pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan likuiditas nasabah premium.
Direktur Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama, menyatakan bahwa kondisi fluktuasi pasar modal, penyesuaian suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik mendorong sebagian investor serta individu beraset tinggi untuk menyesuaikan portofolionya. Mereka membutuhkan likuiditas cepat tanpa harus melepas aset yang memiliki potensi apresiasi tinggi di masa depan.
Gadai Barang Mewah sebagai Instrumen Penyimpan Nilai
Barang mewah kini bukan hanya sebagai simbol status, namun juga sebagai instrumen penyimpan nilai atau safe haven. Banyak pengusaha dan kolektor menyadari bahwa menjual aset mewah saat ini bukanlah keputusan bijak karena potensi kenaikan harganya di masa depan sangat tinggi. Lesca Gadai Premier sendiri telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta menjadi perusahaan gadai swasta pertama di Indonesia yang memiliki sertifikasi ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu dan ISO 27001 untuk keamanan informasi secara bersamaan.
Perusahaan menggunakan instrumen dan akses basis data pasar global untuk menilai nilai pasar wajar sebagai dasar plafon pinjaman. Di samping itu, Lesca Gadai Premier juga menyediakan layanan white glove service, di mana seluruh proses transaksi mulai dari penilaian hingga pencairan dana dilakukan di lokasi nasabah tanpa perlu mendatangi gerai.
Perluasan Layanan ke Berbagai Kota Besar
Layanan tersebut ditujukan untuk kalangan profesional dengan mobilitas tinggi yang mengutamakan privasi, keamanan, serta efisiensi transaksi. Bastian juga mengungkapkan rencana perusahaan untuk memperluas layanan ke Surabaya, Medan, dan beberapa kota besar lainnya dalam satu hingga dua tahun ke depan dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif bagi stabilitas finansial personal para nasabah di tahun 2026.
Berdasarkan data OJK, pembiayaan industri pergadaian mencapai Rp153,49 triliun per Maret 2026, tumbuh 60,27 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara nilai aset industri pergadaian pada periode yang sama mencapai Rp182,84 triliun, meningkat 58,77 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp115,16 triliun.


