Bank Indonesia (BI) sedang mempersiapkan penguatan model bisnis inklusif untuk kelompok subsisten dengan memperhatikan gender. Langkah tersebut bertujuan untuk mendukung pemberdayaan UMKM, terutama UMKM perempuan. Menurut Sri Noerhidajati, Deputi Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau BI, BI berencana untuk menyusun model bisnis ekonomi keuangan inklusif untuk kelompok subsisten dengan fokus pada gender pada tahun 2025. Kelompok subsisten adalah kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah yang memiliki potensi untuk mengembangkan usaha demi meningkatkan kesejahteraan mereka. Riset dari UN Women menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam ekonomi dapat mendukung pertumbuhan ekonomi global melalui peningkatan diversifikasi ekonomi dan kesetaraan pendapatan. Namun, perempuan masih dihadapkan pada berbagai hambatan dalam membangun dan mempertahankan usaha mereka.
Data UN Women menyebutkan bahwa partisipasi perempuan dalam memulai usaha baru hanya sebesar 10 persen, dengan risiko keberlanjutan usaha perempuan yang hanya mencapai 5,5 persen. Untuk mengatasi tantangan ini, BI telah menginisiasi program pengembangan ekonomi dan keuangan inklusif bagi kelompok subsisten di 46 kantor daerah perwakilan BI dengan total 98 kelompok binaan. Hingga tahun 2024, sebagian besar kelompok subsisten binaan BI telah menggunakan transaksi non-tunai, menunjukkan adaptasi positif terhadap digitalisasi dalam usaha mereka. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan ekonomi perempuan, terutama pada masyarakat berpenghasilan rendah, serta membantu menutup kesenjangan gender dalam perekonomian.


