Pada perdagangan Jumat, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, memproyeksikan potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengikuti kondisi bursa saham global. Hal ini dipengaruhi oleh kembali dinaikkannya tarif impor AS terhadap China oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dari 125 persen menjadi 145 persen. Pelaku pasar dan investor khawatir akan tensi yang meningkat antara kedua negara ini, terutama dengan nilai perdagangan yang mencapai hampir 700 miliar dolar AS.
Perubahan kebijakan yang cepat oleh Donald Trump telah meruntuhkan kepercayaan pelaku pasar terhadap AS, dimana volatilitas pasar menjadi peluang bagi manipulasi pasar. Namun, adanya penurunan inflasi AS membuat The Fed dan Trump melihat potensi penurunan tingkat suku bunga. Dengan data inflasi AS menurun, baik secara bulanan maupun tahunan, Trump memanfaatkannya untuk mengendalikan volatilitas pasar.
Di sisi lain, bursa AS Wall Street terpantau melemah pada hari sebelumnya, dengan berbagai indeks mengalami penurunan. Meskipun demikian, Indonesia memiliki keuntungan dalam jeda 90 hari penerapan tarif impor Trump, sehingga bisa bernegosiasi dengan AS dan memperluas kerja sama dengan negara lain untuk mengurangi dampak negatif. Indonesia juga memiliki ketahanan ekonomi yang baik, terutama dari konsumsi dalam negeri, sehingga dampak langsung dari tarif AS tidak begitu signifikan.
Dengan demikian, situasi ini memberikan tantangan dan peluang bagi pasar saham global, termasuk IHSG, untuk tetap waspada dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Semua pihak perlu memantau perkembangan terkini dan meresponsnya dengan bijak.








