Pasar Indonesia terbukti lebih tangguh daripada negara lain dalam menghadapi koreksi ekonomi global, terutama setelah pengumuman kebijakan tarif impor baru oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif baik, didorong oleh fondasi ekonomi yang kuat. Faktor-faktor seperti pertumbuhan kredit yang masih tinggi, belanja domestik yang meningkat, dan surplus neraca perdagangan, semuanya memberikan sinyal positif kepada investor.
Meskipun terjadi pelemahan, IHSG Indonesia masih lebih stabil daripada banyak negara lain seperti Italia, Argentina, Vietnam, Prancis, Singapura, dan AS sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tahan ekonomi yang solid di tengah guncangan ekonomi global. Salah satu kelebihan Indonesia adalah eksposur ekonominya yang rendah terhadap AS, yang hanya berkontribusi sekitar 2,2% terhadap PDB.
Meskipun terjadi tekanan dan ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, dan rasio modal kecukupan perbankan yang tinggi membuktikan bahwa ekonomi Indonesia berada dalam posisi yang solid. Meskipun AS menaikkan tarif impor, Indonesia memiliki fleksibilitas yang cukup untuk menghadapi kebijakan proteksionis tersebut. Keseluruhan, pasar modal Indonesia menunjukkan respons positif terhadap kondisi ekonomi domestik yang kuat dan mantap, mengirimkan sinyal positif kepada para investor.


