Perkiraan terkini dari praktisi bidang Macro & Fixed Income di PT Mega Capital Indonesia, Lionel Priyadi, menunjukkan pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah untuk menghindari memburuknya gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mempertahankan kepercayaan investor di pasar keuangan domestik. Dalam pandangannya, menjaga agar nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tetap stabil di bawah Rp16.900 per dolar AS dapat mengurangi tekanan negatif terhadap pasar saham. Lionel menyoroti dampak pelemahan IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terjadi pagi itu sebagai respons terhadap penurunan global yang disebabkan oleh kebijakan tarif impor AS. Ia berpendapat bahwa penghentian sementara perdagangan efek hari ini mencerminkan akumulasi kerugian selama libur Lebaran Idul Fitri 2025 yang menyebabkan pasar global mengalami koreksi tajam. Lionel memperkirakan potensi koreksi lanjutan IHSG dalam beberapa hari ke depan dengan target teknikal di kisaran level 5.700, bergantung pada stabilitas Rupiah yang dijaga di bawah level 16.900 oleh Bank Indonesia. Selain itu, Arjun Ajwani dari PT Infovesta Kapital Advisori melihat penurunan IHSG sebagai hasil wajar dari kondisi global yang tak pasti karena pengumuman tarif impor AS terhadap semua negara. Ia menilai bahwa saat ini pasar saham global, termasuk IHSG, sedang pulih dari dampaknya. Analis William Surya Wijaya dari Yugen Bertumbuh Sekuritas juga mengakui bahwa berita negatif pasca liburan panjang dan pergolakan pasar memberikan sedikit pengaruh pada pembukaan IHSG hari itu. Menurutnya, investor perlu memahami kondisi ini dengan fokus pada data ekonomi dan Laporan Keuangan perusahaan, tanpa mengabaikan risiko yang ada. Ia menekankan bahwa momen ini dapat menjadi peluang bagi para investor yang cermat.








