Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan menilai kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dampak dari kebijakan ini masih perlu diamati secara lebih mendalam, terutama dalam jangka pendek, mengingat ada potensi pelemahan rupiah yang terjadi meski ada beberapa tanda kenaikan. Harga produk impor yang menjadi semakin mahal di AS dapat memicu inflasi, yang kemungkinan akan direspons oleh Federal Reserve dengan kebijakan terkait suku bunga. Ada kemungkinan terjadinya arus modal keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia jika terjadi tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga AS, yang membuat obligasi AS menarik bagi investor.
Dampak dari kebijakan tarif AS terhadap perdagangan Indonesia dinilai cenderung moderat oleh Fadhil, namun ada beberapa produk ekspor yang akan terkena dampak seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan minyak kelapa sawit. Indonesia berada di urutan kedelapan dalam daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, namun mengingat kebijakan tarif berlaku untuk banyak negara, dampaknya dapat lebih moderat dibandingkan negara-negara pesaing seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Meskipun Indonesia merupakan partner dagang terbesar kedua AS setelah China, dengan surplus perdagangan sebesar 16,8 miliar dolar AS, kebijakan kenaikan tarif yang diberlakukan Trump terhadap sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia, berpotensi mempengaruhi hubungan dagang antara kedua negara. Trump menyatakan bahwa tujuan dari tarif resiprokal ini adalah untuk menciptakan lapangan kerja di dalam negeri dan melindungi kepentingan perdagangan AS. Toko perangkat kedutaan beserta pejabat pemerintah berpendapat bahwa kepentingan ekonomi AS telah dirugikan oleh praktik perdagangan yang dianggap tidak adil.
Sebagai dampak dari kebijakan tarif AS, Indonesia bersama dengan sejumlah negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand, akan mengalami kenaikan tarif berbeda-beda. Hal ini menjadi perhatian penting dalam mengantisipasi dampak ekonomi dan perdagangan di Asia Tenggara.








