Calon Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menjadi sorotan setelah tidak bisa menyebutkan negara-negara ASEAN dalam acara ‘Fit and Proper-test’. Dirinya diusulkan oleh Presiden Donald Trump dan pertanyaan dari Senator Tammy Duckworth tentu menjadi ujian bagi pemahaman dan pengetahuan Hegseth terkait isu strategis kawasan Indo-Pasifik. ASEAN, yang terdiri dari sepuluh negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan di kawasan terhadap China. Hegseth, dalam jawabannya, tidak mampu menyebut negara-negara anggota ASEAN dengan tepat. Hal ini menimbulkan perdebatan terkait kemampuan dan kredibilitasnya sebagai Calon Menteri Pertahanan.
Profil Pete Hegseth mencerminkan pengalaman dan pendidikan yang solid. Lahir di Minneapolis, Minnesota, Hegseth memiliki gelar sarjana di bidang Politik dari Princeton University dan Master of Public Policy dari John F. Kennedy School of Government di Harvard University. Karir militer Hegseth yang mencakup penugasan di Guantanamo Bay, Irak, dan Afghanistan memberikan wawasan yang luas terkait pertahanan dan kebijakan militer. Aktif juga dalam organisasi veteran, seperti Vets Freedom dan Concerned Veterans for America, Hegseth menunjukkan komitmen terhadap isu-isu yang dia pedulikan.
Namun, kontroversi sering mengikuti Hegseth, terutama terkait pandangan konservatifnya yang kontroversial. Saat menjawab pertanyaan Senator Duckworth mengenai ASEAN, Hegseth membuat pernyataan tidak akurat yang menimbulkan keraguan terkait pemahamannya terhadap kawasan tersebut. Dengan pengalaman yang dimilikinya, Pete Hegseth dihadapkan pada tantangan global yang semakin kompleks, sehingga persiapan yang matang sangat diperlukan untuk menjalankan tugasnya dengan baik.








