Wednesday, October 14, 2026
HomeBursaIHSG Diprediksi Kembali Uji Level Psikologis 6.000

IHSG Diprediksi Kembali Uji Level Psikologis 6.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibayangi risiko penurunan ke bawah level psikologis 6.000. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan, apabila IHSG ditutup di bawah level tersebut, indeks berpotensi menguji rentang 5.800–5.900.

Pada perdagangan Jumat pagi, IHSG masih dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.018,08. Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang naik 0,90 poin atau 0,15 persen menjadi 593,28.

Inflasi dan neraca perdagangan menjadi perhatian

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan 3,19 persen pada Agustus. Inflasi bulanan berada di level 0,30 persen, sedangkan inflasi inti mencapai 2,84 persen secara tahunan.

Menurut kajian Ratna, inflasi inti yang masih relatif terkendali menunjukkan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat. Kondisi tersebut diperkirakan belum memberikan tekanan besar kepada Bank Indonesia (BI) untuk memperketat kebijakan moneter.

Meski begitu, kenaikan harga pangan tetap perlu dicermati karena dapat memperbesar risiko tekanan inflasi pada periode berikutnya. Dampaknya dapat terasa pada daya beli konsumen.

Data perdagangan juga menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat tajam. Pada Agustus 2026, surplus tercatat 3,55 miliar dolar AS, naik dari 120 juta dolar AS pada Juli.

Surplus tersebut ditopang oleh ekspor sebesar 26,61 miliar dolar AS yang tumbuh 6,72 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, impor mencapai 23,06 miliar dolar AS atau tumbuh lebih cepat, yakni 19,09 persen secara tahunan.

Pertumbuhan impor yang melampaui ekspor dinilai perlu menjadi perhatian karena berpotensi mempersempit surplus perdagangan apabila permintaan global dan harga komoditas mengalami pelemahan.

Pasar global bergerak beragam

Perhatian pelaku pasar global masih tertuju pada obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Investor mulai beralih dari aksi melepas surat utang pemerintah menjadi membelinya.

Obligasi berjangka lebih pendek, yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, menjadi instrumen yang lebih diminati seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Sebaliknya, obligasi berjangka panjang masih tertekan oleh kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,243 persen pada Kamis (1/10). Pada hari yang sama, harga minyak Brent ditutup menguat 4,4 persen ke level 102 dolar AS per barel.

Penguatan harga minyak terjadi setelah muncul laporan bahwa kapal induk USS Theodore Roosevelt akan tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir November. Kondisi itu memicu kekhawatiran meningkatnya eskalasi serangan AS ke Iran setelah pemilu sela AS pada November.

Di Asia, pergerakan bursa pada Jumat pagi berlangsung variatif. Nikkei turun 0,62 persen, KOSPI melemah 0,47 persen, Shanghai naik 0,23 persen, Hang Seng terkoreksi 2,37 persen, sedangkan Straits Times menguat tipis 0,05 persen.

Pada penutupan Kamis, bursa Eropa kompak melemah. Euro Stoxx 50 turun 1,48 persen, FTSE 100 Inggris 1,68 persen, DAX Jerman 1,03 persen, dan CAC 40 Prancis 1,62 persen. Sebaliknya, Wall Street ditutup menguat, dengan S&P 500 naik 0,19 persen, Nasdaq Composite 0,04 persen, dan Dow Jones Industrial Average 0,04 persen.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer