Empat kelompok suporter PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman menandatangani kesepakatan untuk menjaga keamanan menjelang Derbi Mataram pada BRI Super League 2026/2027. Komitmen tersebut dibuat di Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (16/9), setelah rivalitas kedua klub dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kali berujung bentrokan.
Kesepakatan itu melibatkan Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) dari kubu PSS, serta Brajamusti dan Mataram Independent atau The Maident dari kubu PSIM. Penandatanganan disaksikan manajemen kedua klub, Match Organizing Committee (MOC), Wali Kota Yogyakarta, Bupati Sleman, Asprov PSSI DIY, dan jajaran Polda DIY.
Para suporter berkomitmen menjaga keamanan pertandingan, menghindari provokasi, serta tidak melakukan tindakan anarkis di dalam maupun luar stadion. Mereka juga menyatakan akan menjaga ketertiban lalu lintas saat menuju dan meninggalkan stadion, tidak membawa barang berbahaya, serta menghindari penyebaran narasi negatif di media sosial.
Derbi Mataram kembali ke kasta tertinggi
PSIM dan PSS dijadwalkan bertemu pada 10 Desember 2026. Dalam laga pertama musim ini, PSIM akan bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Sultan Agung, Bantul. Namun, kehadiran penonton masih menunggu evaluasi keamanan dari Polda DIY.
Polda DIY menyatakan keputusan teknis pertandingan akan ditentukan berdasarkan analisis dan perkembangan situasi menjelang hari pelaksanaan. Dalam kesepakatan tersebut, klub dan suporter juga menyatakan siap menerima pengalihan lokasi apabila kondisi keamanan dinilai tidak memungkinkan.
Derbi itu menjadi perhatian karena PSS kembali tampil di kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship. PSIM, yang lebih dulu promosi, akan menjalani musim kedua di level tersebut. Kembalinya kedua klub dalam kompetisi yang sama membuat persaingan sepak bola di DIY kembali mendapat sorotan.
Rivalitas yang memiliki catatan kelam
PSIM bermarkas di Kota Yogyakarta, sedangkan PSS berasal dari Kabupaten Sleman. Pertemuan kedua klub dikenal sebagai Derbi Mataram, nama yang merujuk pada keterkaitan sejarah kawasan Mataram dengan Yogyakarta dan wilayah sekitarnya.
Rivalitas keduanya menguat setelah PSS promosi ke kasta teratas pada musim 1999/2000, ketika PSIM harus turun ke kasta kedua. Sejak itu, persaingan di lapangan berkembang menjadi rivalitas antarkelompok suporter. Penelitian Universitas Gadjah Mada mencatat perselisihan Slemania dan Brajamusti telah berlangsung sejak sekitar 2000. Atribut klub dan fanatisme disebut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gesekan.
Catatan paling serius terjadi pada 22 Mei 2016. Bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia. Pada 26 Juli 2018, Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, juga meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan terkait Derbi Mataram.
Upaya meredakan konflik telah dilakukan sebelumnya. Pada April 2018, Polda DIY mempertemukan perwakilan Brajamusti, The Maident, Slemania, dan BCS dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Menjelang musim 2026/2027, komitmen kembali diperluas. Suporter menyatakan tidak akan melakukan pengrusakan, penganiayaan, pembakaran, penghadangan, atau tindakan melanggar hukum terhadap pemain maupun pendukung lawan.
Perwakilan suporter PSIM, Rendi Agung, menyatakan pihaknya akan menjaga kondisi kelompok pendukung hingga tingkat akar rumput. Sementara itu, perwakilan Slemania, Tato Indarto, menilai komitmen tersebut penting untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta.


