Penyakit infeksi emerging telah menjadi perhatian global selama dua dekade terakhir. Salah satunya adalah virus Nipah, yang diidentifikasi oleh World Health Organization (WHO) sebagai salah satu dari sembilan penyakit infeksi emerging dengan potensi epidemi yang prioritas. Virus Nipah adalah virus RNA yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia melalui kontak langsung maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi. Virus ini mampu menyebabkan infeksi pada sel-sel tubuh manusia dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, antara 40%-75%.
Awal mula penyebaran virus Nipah tercatat bermula di Malaysia pada 1998 dan menyebar ke Singapura melalui impor babi terinfeksi. Di Bangladesh, terdapat lima kali wabah virus Nipah sejak 2001. Gejala awal infeksi virus Nipah seringkali mirip dengan flu, seperti demam, sakit kepala, dan gangguan pernapasan, namun dapat berkembang menjadi pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut.
Pencegahan penularan virus Nipah dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko, seperti hindari mengonsumsi nira langsung dari pohon, cuci buah secara bersih, dan pastikan daging hewan matang sempurna. Protokol kesehatan seperti cuci tangan, etika batuk bersin, dan pemakaian masker juga dianjurkan. Meskipun belum ada laporan kasus di Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Kesadaran dan tindakan pencegahan adalah kunci dalam mengatasi virus Nipah.


