Sunday, February 8, 2026
HomeEkonomiPerbedaan Rial dan Toman: Mata Uang Iran Melemah

Perbedaan Rial dan Toman: Mata Uang Iran Melemah

Mata uang Iran kini menjadi perhatian utama dunia karena ketegangan geopolitik yang semakin memanas dan kebijakan ekonomi global yang diterapkan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengenakan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran. Kebijakan ini berdampak besar pada ekonomi Iran, terutama terlihat dari melemahnya nilai tukar mata uang nasional, rial. Nilai tukar rial bahkan turun ke level terendah jika dikonversikan ke euro. Situasi ini mencerminkan tekanan yang signifikan yang dihadapi ekonomi Iran akibat sanksi dan inflasi yang terus berlangsung.

Menariknya, di pasar tradisional atau toko-toko di Iran, istilah “rial” jarang dipakai dalam transaksi sehari-hari. Masyarakat lebih sering menggunakan istilah “toman” ketika menyebut harga barang atau jasa. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat inflasi di negara tersebut. Untuk menyederhanakan angka dan menghindari angka yang terlalu besar, Iran menggunakan sistem hitung alternatif dengan menggunakan toman.

Meskipun secara hukum dan administratif rial adalah mata uang resmi Iran, dalam praktik sehari-hari masyarakat lebih akrab menggunakan istilah toman. Satu toman setara dengan 10.000 rial atau dapat dianggap sebagai rial dengan empat nol dihapuskan. Meskipun rial tetap menjadi mata uang resmi di Iran, masyarakat memilih untuk menggunakan toman untuk menyebut harga agar lebih mudah. Pemahaman tentang perbedaan antara rial dan toman sering membuat wisatawan dan pengamat ekonomi internasional kebingungan.

Pemerintah Iran melalui Bank Sentral Iran mulai menerapkan kebijakan redenominasi mata uang sejak 2020. Proses ini diharapkan akan selesai pada 2026, dimana 10.000 rial akan setara dengan 1 toman baru. Selama masa transisi, kedua sistem penghitungan nilai akan berjalan bersamaan.

Beberapa faktor yang menyebabkan melemahnya nilai tukar mata uang Iran antara lain sanksi ekonomi internasional, situasi geopolitik di Timur Tengah, inflasi yang tinggi, pembatasan ekspor minyak, dan pembatasan akses ke sistem perbankan global. Semua faktor ini menyumbang pada ketidakstabilan nilai tukar rial dan melemahnya mata uang Iran secara keseluruhan.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer