Kampanye melawan rasisme telah menarik perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketika winger Malut United Yakob Sayuri menjadi korban rasisme di lapangan, kecaman terhadap tindakan tersebut terdengar sayup. Oktovianus Maniani, mantan pemain Timnas Indonesia, mengecam tindakan rasis tersebut dengan tegas dalam sebuah video yang diunggah di media sosial. Ia menyerukan kepada PSSI untuk bertindak tegas terhadap kasus ini dan menegaskan bahwa tindakan diskriminatif tidak bisa ditoleransi, terutama dalam dunia olahraga yang seharusnya mewakili sportivitas dan persatuan.
Kejadian ini terjadi saat pertandingan Malut United melawan Persita di Stadion Indomilk Arena, dan menjadi sorotan publik setelah video pelecehan rasial tersebut beredar luas di media sosial. Oktovianus juga menyuarakan kebingungannya terhadap kegagapan semua orang dalam merespons kasus ini, terutama karena ini bukan kali pertama Yakob Sayuri dan saudara kembarnya, Yance Sayuri, menjadi korban rasisme.
Meski terdapat kampanye antirasisme yang gencar digaungkan, tindakan nyata dalam mengatasi kasus rasisme di sepak bola Indonesia tampaknya masih belum optimal. Oktovianus menuntut PSSI untuk menunjukkan keberpihakan kepada para pemain yang menjadi korban diskriminasi, terutama Yakob Sayuri yang telah memberikan segala-galanya untuk Indonesia sebagai pemain nasional. Seruan Oktovianus pun mendapat dukungan luas dari pecinta sepak bola tanah air, yang menuntut tindakan segera dari PSSI dan operator liga untuk menginvestigasi serta memberikan sanksi kepada pelaku kasus rasisme.
Sebagai bagian dari perjalanan untuk mengakhiri rasisme dalam sepak bola, suara-suara seperti Oktovianus Maniani sangat penting untuk memberikan perhatian dan tekanan pada pihak berwenang agar tindakan rasialis tidak lagi dibiarkan terjadi. Keadaan ini juga menunjukkan betapa pentingnya komitmen dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai sportivitas dan kesetaraan di setiap level olahraga, termasuk sepak bola Indonesia.








