Pelatih timnas Nigeria, Eric Chelle, menuduh Republik Demokratik Kongo menggunakan praktik Voodoo setelah kekalahan timnya pada adu penalti di laga final play-off zona Afrika, yang mengakibatkan gagalnya perolehan tiket Piala Dunia 2026. Tudingan tersebut menimbulkan keingintahuan publik tentang apa sebenarnya Voodoo itu. Meskipun sering dikaitkan dengan dunia mistis, Voodoo memiliki sejarah dan tradisi yang kompleks. Sistem kepercayaan Voodoo berasal dari Haiti pada abad ke-16, saat budak Afrika Barat membawa tradisi spiritual mereka ke wilayah tersebut. Perkembangan Voodoo Haiti dipengaruhi oleh berbagai tradisi dan kepercayaan, termasuk pengaruh agama Kristen dan budaya Karibia. Voodoo juga turut berperan dalam Revolusi Haiti sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan.
Meskipun asal usul Voodoo sulit dilacak, sebagian besar peneliti sepakat bahwa akarnya berasal dari Afrika Barat dan berkembang dengan memadukan berbagai tradisi setempat. Para budak di Haiti berhasil mempertahankan tradisi spiritual mereka meskipun dilarang oleh peraturan kolonial pada tahun 1685. Voodoo menjadi agama resmi di beberapa negara seperti Benin dan Haiti, namun seringkali disalahpahami karena representasi yang keliru dalam media populer. Voodoo seharusnya dipahami sebagai seperangkat nilai, ritual, dan filosofi yang dihormati oleh penganutnya.
Penganut Voodoo berhubungan dengan para roh Lwa melalui ritual yang bervariasi, seperti melayani roh tertentu untuk memohon perlindungan atau keberuntungan. Contohnya, nelayan di Haiti menghormati Lwa Agwé melalui ritual yang berkaitan dengan laut dan perjalanan bahari. Mereka menggunakan warna, pakaian, dan persembahan yang sesuai dengan keyakinan mereka sebagai bentuk penghormatan. Lwa diyakini akan memberikan perlindungan atau keberuntungan sebagai balasan atas penghormatan tersebut.








