Proses hukum kasus Motocross di NTB menyoroti kompleksitas dilema yang muncul ketika melibatkan data keuangan yang tidak lengkap dan tanggung jawab yang kabur. Kasus tersebut menggambarkan betapa pentingnya integritas tata kelola dalam sebuah acara, terutama ketika ada indikasi penyimpangan anggaran dan kurangnya akuntabilitas. Dengan dukungan dana pusat yang besar, harapan pengembangan pariwisata olahraga di NTB menjadi terjas. Namun, laporan kerugian sekitar Rp2,6 miliar oleh Inspektorat NTB menggarisbawahi seriusnya masalah ini. Temuan tersebut mengungkap beberapa pos kerugian yang berasal dari selisih pembayaran, kekurangan pembayaran pajak, dan kekurangan dana yang diterima oleh organisasi mitra.
Persoalan ini tidak lagi hanya masalah kelalaian administrasi, melainkan juga menyangkut potensi tindak pidana. Kehadiran Kejaksaan Tinggi NTB dalam proses penegakan hukum menuntut keterlibatan secara aktif dari APIP untuk melakukan audit yang teliti. Masyarakat pun menjadi saksi ketegangan antara upaya restoratif untuk memperbaiki administrasi yang kurang baik dan tuntutan akan penegakan hukum yang tegas.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana posisi kompleks antara fungsi pengawasan internal dan penegakan hukum publik mempengaruhi integritas sebuah acara besar seperti Motocross. Hal ini menuntut keterlibatan aktif semua pihak terkait, baik internal maupun eksternal, guna memastikan proses tata kelola yang berkualitas dan akuntabel. Publik pun semakin sadar akan pentingnya integritas dan transparansi dalam setiap kegiatan yang melibatkan dana publik.


