Pada Jumat, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pelemahan akibat sentimen baik dari dalam negeri maupun global. IHSG dibuka melemah 88,58 poin atau 1,11 persen menjadi 7.863,51. Sedangkan indeks LQ45 turun 9,66 poin atau 1,19 persen ke 801,91. Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG berpotensi melemah menuju support level 7.900 pada hari Jumat.
Dari dalam negeri, ribuan buruh melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR RI, Jakarta, dengan beberapa tuntutan, antara lain menolak kebijakan upah murah dan sistem outsourcing. Aksi tersebut berakhir ricuh setelah insiden yang menimpa pengemudi ojek online di Pejompongan, Jakarta Pusat.
Dari kawasan Asia, pelaku pasar menantikan data Consumer Confidence Jepang periode Agustus 2025 yang diperkirakan sedikit turun. Bank sentral Korea Selatan mempertahankan suku bunga acuan tetap, sementara India menghadapi dampak dari tarif impor AS. Pada kawasan Eropa, Jerman akan merilis data Retail Sales dan inflasi. Inggris, Prancis, dan Jerman kembali memberlakukan sanksi PBB terhadap Iran, yang dapat memicu ketegangan geopolitik.
Dari luar negeri, Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II-2025 tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi menambah ketidakpastian menjelang pertemuan The Fed pada September 2025. Selanjutnya, pelaku pasar akan memantau data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index.
Di pasar saham, bursa saham Eropa dan AS mengalami pergerakan yang berbeda pada Kamis. Sementara itu, bursa saham regional Asia juga mengalami perubahan pada pagi hari. Nikkei melemah, Shanghai dan Hang Seng menguat, serta Strait Times juga mengalami kenaikan.


