Pada akhir perdagangan Senin, IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pelemahan akibat aksi ambil untung atau profit taking dari para investor di pasar modal Indonesia. IHSG turun sebanyak 73,12 poin atau 0,97 persen menjadi 7.464,65. Sementara itu, indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, juga turun sebesar 9,07 poin atau 1,14 persen ke level 787,75. Pelemahan IHSG ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk aksi profit taking setelah mengalami kenaikan pada hari Jumat yang lalu. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa ketidakpastian global akibat tarif dan data tenaga kerja AS yang melemah juga berperan dalam koreksi indeks tersebut. Terlebih lagi, laporan kinerja keuangan beberapa emiten dalam negeri yang mengalami penurunan juga turut mempengaruhi pelemahan IHSG. Para pelaku pasar di dalam negeri tengah menantikan sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis minggu ini, seperti pertumbuhan PDB kuartal II-2025 dan data cadangan devisa. Di sisi internasional, pelaku pasar juga memperhatikan data tenaga kerja AS, pengumuman tarif baru oleh Presiden AS, serta potensi penurunan suku bunga acuan The Fed. Berdasarkan IDX-IC, tujuh sektor menguat, dipimpin oleh sektor kesehatan, sementara empat sektor terkoreksi, dengan sektor energi sebagai yang paling turun. Saham-saham seperti PPRI, DKHH, dan OASA mengalami kenaikan harga, sementara AMMN, CBUT, dan INRU mengalami penurunan harga. Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.038.590 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 29,69 miliar lembar senilai Rp15,91 triliun. Di pasar saham regional Asia, indeks Nikkei melemah, indeks Shanghai menguat, indeks Hang Seng dan indeks Strait Times juga menguat.


