Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa Bank Indonesia mungkin perlu menggabungkan pelonggaran moneter dengan kebijakan makroprudensial yang lebih agresif untuk mempercepat penurunan suku bunga acuan (BI-Rate). Josua menekankan pentingnya meningkatkan transparansi dalam penetapan suku bunga kredit, merangsang persaingan antarbank melalui digitalisasi, dan memperkuat transmisi ke sektor-sektor kredit yang memiliki dampak besar pada pertumbuhan ekonomi. Dia juga menyoroti bahwa proses transmisi BI-Rate ke suku bunga kredit perbankan memerlukan waktu yang lebih lama karena sifat pasar kredit domestik yang masih konservatif.
Studi empiris menunjukkan bahwa efek penurunan suku bunga acuan terhadap bunga kredit perbankan bisa memakan waktu antara 1-2 kuartal, tergantung pada situasi pasar kredit dan persepsi risiko. Di Indonesia, transmisi BI-Rate ke bunga kredit diperlambat oleh faktor-faktor struktural seperti risiko kredit tinggi, margin bunga bersih yang tebal, dan keengganan bank untuk menurunkan suku bunga kredit secara signifikan. Meskipun likuiditas perbankan masih cukup, bank-bank tetap berhati-hati dalam merespons penurunan BI-Rate karena kondisi ekonomi yang melambat.
Sementara BI terus memangkas BI-Rate, suku bunga kredit perbankan masih relatif tinggi dan pertumbuhan kredit mengalami penurunan. Meskipun demikian, likuiditas perbankan masih memadai dan BI terus mendorong pertumbuhan kredit melalui kebijakan makroprudensial. Meskipun tantangan transmisi kebijakan moneter ke sektor riil tetap ada, BI tetap optimis dengan kondisi inflasi terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga. Josua menegaskan pentingnya sinergi antara pelonggaran moneter dan kebijakan makroprudensial agar efeknya dapat dirasakan lebih cepat di pasar kredit.


