Setiap tahun menjelang hari ulang tahun Jakarta, masyarakat selalu menantikan pergelaran Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran. Acara ini tidak hanya menampilkan pameran dagang dan hiburan, tetapi juga mencerminkan perkembangan ibu kota. Dengan sejarah panjang sejak 1968, Jakarta Fair telah menjadi salah satu festival terbesar di Asia Tenggara.
Awal mula PRJ berasal dari pasar malam terbesar di wilayah Gambir pada masa kolonial. Acara ini pertama kali digelar pada 31 Agustus 1898 untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina dari Belanda. Pasar malam ini menjadi hiburan bagi warga Batavia dengan beragam hiburan seni, kuliner, dan produk pada zamannya. Namun, setelah kependudukan Jepang pada tahun 1942, acara ini berhenti.
Pasca-kemerdekaan, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ingin menyatukan pasar malam yang bermunculan dalam sebuah festival terpusat yang lebih besar. Dengan tujuan mendorong pertumbuhan industri nasional dan memperkenalkan produk lokal kepada publik, Jakarta Fair lahir dan menjadi acara tetap dalam perayaan ulang tahun Jakarta.
Sejak pertama kali digelar pada 1968 di Kawasan Monas, Jakarta Fair terus berkembang hingga lokasinya dipindahkan ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada tahun 1992. Di sini, acara tersebut mampu menampung ribuan peserta dan jutaan pengunjung. Selain perusahaan besar, UMKM juga diberi kesempatan untuk tampil dan memperluas jangkauan pasar mereka.
Tahun 2025, Jakarta Fair Kemayoran kembali hadir dengan tema besar yang mendukung pertumbuhan UMKM dan industri kreatif. Pengunjung dapat menikmati diskon besar-besaran, parade budaya, konser musik, pameran, dan pesta kembang api. Jakarta Fair telah bertransformasi menjadi acara yang tidak hanya menampilkan produk lokal unggulan tetapi juga menyediakan hiburan untuk semua kalangan, menjadikannya pilihan tempat rekreasi keluarga.


