Munculnya busa di hilir Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta disebabkan oleh pembukaan pintu air yang memicu turbulensi air yang kuat, mengakibatkan busa terbentuk di sekitar area pembukaan sungai. Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menjelaskan bahwa busa tersebut kemudian terbawa arus hingga sekitar satu kilometer sebelum lenyap. Hal ini terjadi karena tinggi muka air saat kejadian mencapai 4,1 meter dan dalam status siaga, sehingga pintu air dibuka penuh sesuai POS pengendalian banjir.
Dampak dari pembukaan pintu air ini menyebabkan turbulensi air yang cukup kuat dan busa di sekitar area pembukaan sungai diduga berasal dari limbah domestik warga yang terbawa aliran air hujan. DLH telah melakukan langkah tanggap darurat dengan pengambilan sampel air di lokasi kejadian untuk dilakukan analisis lebih lanjut di Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD). Hasil analisis akan digunakan sebagai dasar evaluasi dan langkah penanganan lebih lanjut terkait potensi limbah domestik dalam badan air.
DLH terus memantau kondisi sungai secara berkala dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Menurut Yogi, busa yang muncul disinyalir berasal dari detergen keras yang digunakan masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan deterjen yang lebih ramah lingkungan guna mengurangi dampak busa di sungai.
Langkah selanjutnya akan dilakukan sosialisasi dan penegakan hukum terhadap pelaku usaha cucian mobil atau motor dan “laundry” di sepanjang BKT. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan membangun Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) secara bertahap untuk memastikan limbah yang dihasilkan memenuhi baku mutu air limbah dan dapat dibuang ke badan air dengan aman. Dengan demikian, diharapkan kejadian busa di Sungai BKT dapat diminimalisir dan lingkungan hidup tetap terjaga.


