Penanganan kebakaran di Jakarta harus benar-benar menyentuh akar persoalan utama terkait dengan arus pendek listrik yang sering menjadi penyebab utama. Anggota DPRD DKI Jakarta, Ade Suherman, mengungkapkan bahwa sebanyak 66 persen kasus kebakaran di Ibu Kota disebabkan oleh korsleting listrik. Ade menekankan pentingnya program konkret untuk menata kabel listrik di permukiman padat sebagai langkah preventif yang efektif.
Meskipun Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2025 mewajibkan setiap RT memiliki dua unit APAR, implementasi kebijakan tersebut harus diperkuat agar tidak hanya bersifat seremonial. Ade menyoroti pentingnya pendekatan teknis dan preventif untuk menyentuh langsung sumber risiko kebakaran di Jakarta. Dia mengusulkan audit instalasi listrik, penataan kabel listrik bersama PLN, distribusi APAR berdasarkan tingkat risiko, serta pelatihan pemadaman kebakaran secara berkala untuk warga dan relawan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Wakil Gubernur Rano Karno telah melakukan berbagai upaya mitigasi risiko kebakaran dengan membangun posko, melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran, dan membentuk relawan pemadam kebakaran di wilayah rawan terjadinya kebakaran. Ade menekankan bahwa pencegahan kebakaran harus dilakukan secara komprehensif, bukan hanya sebatas tindakan parsial. Dengan demikian, langkah-langkah strategis perlu terus ditingkatkan untuk melindungi masyarakat dari bencana kebakaran yang mengancam.


