Terpilihnya Paus baru, Leo XIV, yang merupakan Paus pertama dari Amerika Serikat, kembali menjadi sorotan dunia setelah asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina pada Kamis petang. Asap putih ini menandai bahwa konklaf telah mencapai keputusan dan seorang Paus baru telah terpilih oleh para kardinal elektor. Di balik momen bersejarah tersebut, muncul pertanyaan terkait pembentukan asap konklaf dan mengapa warnanya dapat berbeda, yakni hitam dan putih. Menurut Catholic News Agency, asap putih dihasilkan dari pembakaran surat suara atau ballot yang dicampur dengan jerami kering, sedangkan asap hitam berasal dari pembakaran surat suara dengan jerami basah atau bahan kimia khusus untuk menghasilkan warna gelap. Sejak konklaf tahun 2005, Vatikan menggunakan senyawa kimia khusus untuk memastikan warna asap yang lebih jelas dan mudah dikenali oleh publik. Mekanisme pembakaran melibatkan campuran bahan seperti kalium klorat, laktosa, atau kalium perklorat, antrasena, yang diatur dalam dua tungku untuk menghasilkan asap putih atau hitam. Proses tersebut merupakan bagian penting dari tradisi konklaf yang berlangsung tertutup di Kapel Sistina, di mana para kardinal elektor harus mencapai minimal dua pertiga suara untuk memilih seorang Paus baru. Dengan munculnya asap putih pada Kamis malam, dunia mengetahui bahwa Uskup Agung Robert Francis Prevost telah terpilih sebagai Paus Leo XIV, pemimpin baru Gereja Katolik.


