Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, nilai tukar (kurs) rupiah diperkirakan akan menguat karena adanya rencana dialog antara Amerika Serikat (AS) dan China terkait kebijakan tarif. AS telah memberlakukan tarif yang tinggi hingga 245 persen terhadap barang-barang China, termasuk tarif timbal balik, tarif terkait fentanil, dan tarif “Section 301”. Di sisi lain, China juga memberlakukan tarif impor sebesar 125 persen untuk barang-barang AS. Presiden AS, Trump, menegaskan bahwa tarif terhadap China tidak akan mencapai 145 persen, namun juga tidak akan menjadi 0 persen.
Sentimen positif terhadap risiko menguat setelah Trump menyatakan bahwa dia tidak akan memecat Gubernur Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Sebelumnya, Trump mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap Powell dalam media sosial. Powell sendiri telah memberikan penilaian suram terhadap prospek ekonomi yang dipengaruhi oleh kebijakan tarif besar-besaran yang diterapkan Trump.
Diperkirakan kurs rupiah akan berada dalam rentang Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS. Di pembukaan perdagangan hari Rabu, nilai tukar rupiah melemah sedikit menjadi Rp16.861 per dolar AS dibandingkan sebelumnya. Sejumlah faktor, termasuk perkembangan dialog antara AS dan China serta sentimen terhadap keputusan Powell, akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah ke depannya.








