Tuesday, March 10, 2026
HomeBeritaKonferensi Asia Afrika 1955: Satu Kesatuan di Bandung

Konferensi Asia Afrika 1955: Satu Kesatuan di Bandung

Pada tanggal 18 April 1955, Bandung menjadi pusat perhatian dunia ketika 29 negara dari Asia dan Afrika berkumpul dalam Konferensi Asia Afrika. Sejarah mencatat bagaimana semangat kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajahan berkobar di tengah-tengah Gedung Merdeka. Konferensi ini bukan hanya pertemuan biasa, melainkan pesan kuat bahwa negara-negara yang pernah dijajah memiliki potensi untuk bangkit dan menentukan nasibnya sendiri.

Gagasan Konferensi Asia Afrika bermula dari Konferensi Kolombo di Sri Lanka pada bulan April 1954, di mana Indonesia, India, Pakistan, Burma (kini Myanmar), dan Sri Lanka membahas isu-isu kolonialisme dan pentingnya kerja sama di kawasan Asia dan Afrika. Dari situlah muncul ide untuk menggelar forum yang lebih luas melibatkan lebih banyak negara dari kedua benua tersebut. Usulan tersebut kemudian terwujud pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung dengan dibuka oleh Presiden Soekarno dan dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.

Konferensi Asia Afrika 1955 menghasilkan Dasasila Bandung, sebuah kesepakatan berisi sepuluh prinsip tentang perdamaian, kedaulatan, dan kerja sama antar bangsa. Kesepakatan tersebut menjadi landasan penting bagi hubungan internasional negara-negara berkembang. Tujuan Konferensi Asia Afrika mencakup mempererat kerja sama antar negara, menolak kolonialisme, memperkuat solidaritas, dan memperjuangkan keadilan dalam hubungan internasional serta kesetaraan di antara negara-negara Asia dan Afrika.

Sejarah Konferensi Asia Afrika 1955 tetap berperan penting dalam diplomasi Indonesia dan memperkuat semangat kerjasama antar negara di kedua benua. Berbagai tujuan mulia seperti memperkuat kerja sama ekonomi, sosial, dan politik, menolak kolonialisme, serta mendorong perdamaian dunia terus dipegang teguh sebagai warisan dari pertemuan bersejarah tersebut.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer