Pasar obligasi pemerintah AS mengalami gejolak yang signifikan akibat dari perang tarif yang dilancarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Investor tidak lagi yakin dengan keamanan US Treasury, yang sebelumnya dianggap sebagai safe haven karena dijamin oleh perekonomian terbesar di dunia. Perang tarif yang dipicu oleh kebijakan Trump menyebabkan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, yang pada akhirnya mengakibatkan investor meninggalkan obligasi pemerintah AS. China dan Jepang, dua pemegang US Treasury terbesar, diduga menjual obligasi sebagai balasan atas tarif yang dijatuhkan oleh Trump kepada mereka. Keputusan ini memicu penurunan nilai US Treasury dan peningkatan yield-nya, sehingga pemerintah AS menghadapi risiko pembayaran bunga yang lebih tinggi.
Defisit anggaran AS juga semakin menggunung akibat tarif impor yang menaikkan harga barang di AS. Investor, pebisnis, politisi, dan elemen pemerintahan Trump mulai merasa terganggu dengan skenario yang mungkin mengarah pada resesi ekonomi. Kekhawatiran ini menyebabkan Trump mengurangi tarif untuk menjaga stabilitas pasar, namun investor tetap ragu terhadap US Treasury. Situasi ini membuktikan bahwa investor mulai mencampakkan US Treasury karena ketidakpastian pasar, yang bisa memberikan dampak negatif terhadap ekonomi AS.
Namun, kecenderungan pasar obligasi yang tidak stabil belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, terutama ketika China terus merespons tantangan perang dagang dari AS. Pergerakan pasar obligasi AS juga dibandingkan dengan reaksi pasar obligasi di Inggris pada 2022, yang menyebabkan kejatuhan ekonomi Inggris. Trump, bersama AS, harus siap menghadapi masalah besar yang tidak terduga akibat kebijakan perang tarif yang digulirkan, terutama dalam menghadapi negara-negara seperti China. Maka, upaya untuk menjaga stabilitas pasar obligasi pemerintah AS menjadi kunci bagi keberlangsungan ekonomi global dan AS ke depannya.


