Dalam menghadapi era perang dagang saat ini, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengusulkan penguatan kerja sama ASEAN dan perlindungan pasar domestik. Bhima menyarankan agar pemerintah mengalihkan produk ekspor ke pasar alternatif seperti Timur Tengah, memperkuat kerja sama di ASEAN, dan memperkuat daya beli masyarakat untuk melindungi pasar dalam negeri dari ekses importasi berlebihan.
Perang dagang antara AS dan China diketahui memiliki risiko memantik resesi ekonomi global, dengan volume perdagangan dunia diprediksi turun tajam. Indonesia sendiri memiliki ketergantungan ekspor pada AS dan China mencapai 34 persen. Bhima juga menyoroti bahwa penurunan kapasitas produksi di China dan AS dapat berdampak pada pengurangan pemesanan barang di Indonesia, bahkan potensial mengakibatkan pengalihan produksi dari China ke Indonesia.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengumumkan penundaan selama 90 hari atas tarif resiprokal ke negara mitra dagang, tapi tetap menaikkan bea masuk ke China. Sementara itu, negosiasi paket yang dibawa Pemerintah Indonesia ke Washington D.C. untuk menghadapi kebijakan tarif timbal balik AS sudah dipersiapkan. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai jalur diplomasi sebagai solusi yang saling menguntungkan tanpa merespons dengan tindakan tarif balasan. Pemerintah Indonesia juga akan menyamakan sikap dengan negara-negara ASEAN dalam pertemuan pada 10 April 2025.
Dengan demikian, langkah-langkah koordinasi dan kerjasama menjadi kunci dalam menghadapi dampak perang dagang yang timbul akibat kebijakan tarif impor AS. Keterlibatan ASEAN dan perkuatan pasar domestik di Indonesia diharapkan mampu mengamankan stabilitas ekonomi negara dalam menghadapi ketidakpastian global.








