Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap kebijakan tarif impor terbaru Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Donald Trump. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan hal ini dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu. BI berupaya memastikan likuiditas valas yang cukup untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha, serta menjaga keyakinan pelaku pasar melalui optimalisasi instrumen triple intervention. Intervensi tersebut meliputi pasar valuta asing, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Surat Berharga Negara (SBN). Bank Indonesia terus memantau pasar keuangan global dan domestik pasca pengumuman kebijakan tarif Trump pada 2 April 2025. Pasca pengumuman tersebut, pasar finansial bergerak dinamis dengan pelemahan pasar saham global dan penurunan yield US Treasury. Di tengah pengumuman tarif AS, operasi moneter Bank Indonesia pada pekan ini dihentikan karena hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2025 dalam rangka Hari Raya Idul Fitri dan Hari Suci Nyepi. Operasional Bank Indonesia akan kembali normal pada 8 April 2025. Trump telah mengumumkan kenaikan tarif minimal 10 persen terhadap banyak negara, termasuk Indonesia, dengan tarif 32 persen. Sejumlah negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand juga terkena kenaikan tarif AS. Tujuan dari tarif timbal balik ini adalah menciptakan lapangan kerja di dalam negeri AS. Trump dan pejabat pemerintahannya menganggap AS “dirugikan” oleh praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Penetapan tarif ini diumumkan dalam acara “Make America Wealthy Again” di Rose Garden, Gedung Putih.


